Wolf Alice Kuartet asal London ini akhirnya menjejakkan kaki di Jakarta setelah penantian panjang. Dengan warisan melodi alternative rock 90-an yang dibalut sensibilitas modern serta vokal khas Ellie Rowsell yang memikat, Wolf Alice hadir sebagai band yang sejak awal kariernya selalu terasa relevan. Album debut My Love Is Cool (2015) menjadi titik masuk mereka ke radar publik global—sebuah rilisan yang muncul di saat musik indie rock mulai kehilangan tajinya di pertengahan 2010-an.
Di tengah lanskap yang mulai jenuh, Wolf Alice datang sebagai penyegar. Musik mereka terdengar padat, emosional, dan penuh keberanian, dengan Ellie menjelma figur penting bagi banyak pendengar—khususnya perempuan—yang ingin melihat representasi kuat di ranah alternative rock. Eksplorasi mereka pun terus berkembang, mulai dari eksperimen tempo dan tekstur di Visions of a Life hingga pendekatan atmosferik dan melankolis di Blue Weekend, album yang lekat dengan tema patah hati dan kesedihan personal.
Penantian Panjang Wolf Alice yang Akhirnya Terbayar
Formasi Ellie Rowsell, Joff Oddie, Joel Amey, dan Theo Ellis sudah lama menjadi nama yang dielu-elukan penggemar Indonesia. Bertahun-tahun, permintaan agar Wolf Alice tampil di Tanah Air membanjiri kolom komentar berbagai festival musik—namun selalu berakhir sebatas harapan.
Hingga akhirnya Ismaya Live bersama Collective Minds Asia mewujudkan mimpi itu. Selasa, 13 Januari 2026, Jakarta resmi menjadi saksi penampilan perdana Wolf Alice di Indonesia.
Bengkel Space, Retro, dan Ledakan Energi
Bengkel Space malam itu terasa istimewa. Band yang kini bereksplorasi dengan nuansa soft rock bernapas retro lewat album terbaru The Clearing tampil selaras dengan konsep tersebut. Backdrop perak ala pesta 70-an, busana bernuansa jadul, dan tata visual yang elegan membuat atmosfer konser terasa nostalgik tanpa jatuh ke kesan artifisial.
Penonton sudah memadati venue jauh sebelum jam menunjukkan pukul 20.00. Ketika ‘Thorns’ membuka set, euforia langsung terasa, disusul ‘Bloom Baby Bloom’ yang menampilkan permainan drum Joel Amey yang eksplosif. Joel kembali mencuri perhatian saat mengambil alih vokal utama di ‘White Horses’, sementara Ellie beralih ke gitar, memamerkan harmoni pop rock yang nyaris sempurna.
Energi Ellie sepenuhnya menguasai panggung di deretan lagu seperti ‘Formidable Cool’, ‘Just Two Girls’, dan ‘Leaning Against the Wall’. Tatapannya tajam, gesturnya penuh percaya diri—sebuah pernyataan tanpa kata bahwa ia adalah pusat gravitasi malam itu.
Galau Kolektif dan Nostalgia Bersama
Tak lengkap membicarakan Wolf Alice tanpa Blue Weekend. Album paling sendu mereka itu menemukan rumahnya di Jakarta, negara yang akrab dengan lagu-lagu galau. ‘How Can I Make It OK?’ berubah menjadi koor massal, sementara ‘The Sofa’ dari album terbaru juga disambut hangat, membuktikan kuatnya ikatan emosional band ini dengan penggemarnya.
‘Bros’ menghadirkan nostalgia satu dekade perjalanan, sebelum tempo kembali dipermainkan lewat ‘You’re A Germ’ dan ‘Safe From Heartbreak (If You Never Fall in Love)’. Meski ritme melambat, energi penonton tetap menyala—bernyanyi lantang bersama petikan gitar akustik Joff dan Ellie yang tampil tanpa beban.
Momen intim berlanjut di ‘Safe in the World’, saat Ellie, Joff, dan Theo naik ke panggung kecil, menciptakan suasana layaknya pertunjukan band era 70-an yang hangat dan dekat. Setelah ‘Delicious Things’, tempo kembali meningkat lewat ‘Bread Butter Tea Sugar’ hingga meledak di ‘Play The Greatest Hits’. Lagu ikonik ‘Silk’ pun dibawakan, membawa penonton kembali pada memori T2 Trainspotting, sebelum ‘Giant Peach’ menjadi puncak dominasi panggung—lengkap dengan gitar Flying V dan tarian penuh percaya diri dari Ellie dan Theo.
Penutup yang Membersihkan Segalanya
Dua lagu pamungkas, ‘The Last Man on Earth’ dan ‘Don’t Delete the Kisses’, menjadi penutup yang emosional. Suara penonton yang menggema menandai momen kolektif: rindu yang terpendam hampir sepuluh tahun akhirnya terbayar lunas.
Sebanyak 21 lagu selama lebih dari 90 menit terasa cukup—bahkan lebih—untuk membuktikan kekuatan Wolf Alice sebagai band live. Seusai konser, Theo dan Joff mengungkapkan kebahagiaan mereka bisa tampil di Jakarta untuk pertama kalinya dan berharap bisa segera kembali. Theo pun menyampaikan satu harapan sederhana: agar semua orang pulang dengan perasaan bahagia.
Seperti judul albumnya, The Clearing, malam itu Wolf Alice benar-benar “membersihkan” kerinduan penggemarnya. Pertunjukan ini bukan sekadar konser debut, melainkan pernyataan bahwa Wolf Alice telah tumbuh menjadi kolektif yang matang—mampu menyeimbangkan lirik yang cerdas, melodi yang kuat, dan energi panggung yang meyakinkan. Sebuah bukti sahih bahwa mereka adalah salah satu bintang paling bersinar di lanskap indie rock masa kini. Tuna55