You are currently viewing Boy In Space Kembali dengan Single Baru ‘Who’s Crying When I’m Leaving?’: Potret Kesepian, Jarak, dan Pencarian Rumah

Boy In Space Kembali dengan Single Baru ‘Who’s Crying When I’m Leaving?’: Potret Kesepian, Jarak, dan Pencarian Rumah

Musisi pop asal Swedia, Robin Lundbäck, yang dikenal luas dengan nama panggung Boy In Space, resmi menandai kembalinya ke industri musik dengan merilis single terbaru berjudul Who’s Crying When I’m Leaving? pada 30 Januari 2026. Lagu ini menjadi karya pertamanya sejak perilisan EP The Butterfly Affect pada tahun 2025, sekaligus membuka babak baru dalam perjalanan artistiknya menuju album debut yang dijadwalkan meluncur pada musim gugur tahun ini.

Kembalinya Boy In Space disambut antusias oleh penggemar yang telah mengikuti evolusi emosional dalam karya-karyanya. Dikenal dengan gaya penulisan lirik yang jujur dan introspektif, musisi ini kembali menyentuh tema personal yang dekat dengan banyak pendengar: rasa sepi, keterasingan, dan kerinduan akan tempat yang bisa disebut rumah.

Lagu tentang Pergi, Jarak, dan Kehilangan yang Sunyi

Secara tematik, Who’s Crying When I’m Leaving? mengangkat pergulatan batin seseorang yang terbiasa hidup dalam perpindahan. Lagu ini menggambarkan perasaan hampa yang muncul ketika hubungan dan tempat harus ditinggalkan, sering kali tanpa kepastian apakah kepergian itu benar-benar meninggalkan jejak emosional bagi orang lain.

Lirik-liriknya terasa sederhana namun menyentuh, membingkai kesepian bukan sebagai ledakan emosi besar, melainkan sebagai rasa sunyi yang perlahan mengendap. Pertanyaan dalam judul lagu itu sendiri terdengar retoris, seolah mewakili kegelisahan terdalam: apakah kehadiran seseorang benar-benar berarti, atau justru mudah dilupakan ketika ia pergi.

Lagu ini ditulis oleh Robin Lundbäck bersama Fredrik Häggstam, Leah Mathies, dan Joel Gunnarsson. Dari sisi produksi, Who’s Crying When I’m Leaving? digarap oleh Freddy Alexander dan Oskar Widén, yang berhasil menciptakan lanskap musik pop atmosferik dengan sentuhan melankolis khas Boy In Space. Aransemen yang minimalis namun emosional memberi ruang bagi vokal Robin untuk menjadi pusat cerita.

Refleksi Pribadi Seorang Pengembara

Dalam berbagai pernyataannya, Boy In Space mengungkapkan bahwa lagu ini lahir dari refleksi pribadinya tentang kehidupan yang terus berpindah-pindah sejak usia muda. Ia menyadari bahwa kebiasaan tersebut membentuk dirinya, tetapi juga memaksanya belajar melepaskan banyak hal—termasuk hubungan dengan orang-orang terdekat.

“Ada titik di mana aku sadar bahwa terus pergi berarti terus meninggalkan,” ungkapnya. Kini, ia mulai memahami pentingnya “menancapkan kaki” di satu tempat, berada dekat dengan orang-orang yang ia cintai, dan membangun rasa memiliki yang selama ini terasa abstrak. Lagu ini menjadi semacam pengakuan jujur atas kerinduan tersebut—kerinduan untuk berhenti sejenak dan merasa cukup.

Visual Intim dalam Balutan Behind-the-Scenes

Untuk melengkapi rilisan ini, Boy In Space juga merilis video musik bergaya behind-the-scenes yang disutradarai oleh ROOM7. Alih-alih menampilkan konsep visual megah, video ini justru menonjolkan keintiman dan kejujuran. Cuplikan aktivitas sehari-hari, momen di balik layar, dan ekspresi natural sang musisi memperkuat nuansa personal yang ingin disampaikan lagu tersebut.

Pendekatan visual ini membuat pendengar seolah diajak masuk ke ruang pribadi Boy In Space, menyaksikan proses kreatif sekaligus sisi manusiawi di balik musiknya.

Menuju Album Debut dan Tur Eropa

Perilisan Who’s Crying When I’m Leaving? juga menjadi sinyal awal menuju album debut Boy In Space yang telah lama dinantikan. Meski detail album tersebut masih dirahasiakan, single ini memberi gambaran bahwa tema reflektif dan pencarian identitas akan menjadi benang merah dalam proyek besar tersebut.

Seiring dengan perilisan lagu baru, Boy In Space juga mengumumkan rangkaian tur bertajuk Running on Dreams Tour 2026. Tur ini akan dimulai di London pada 5 Maret 2026 dan berakhir di Stockholm pada 25 Maret 2026, menjadi kesempatan bagi penggemar untuk merasakan langsung emosi lagu-lagunya dalam format pertunjukan intim.

Sebuah Awal Baru yang Sunyi namun Jujur

Dengan Who’s Crying When I’m Leaving?, Boy In Space tidak hanya kembali ke panggung musik, tetapi juga memperlihatkan kedewasaan emosional dalam penulisan lagunya. Ini adalah karya yang tidak berteriak, tetapi berbisik—dan justru karena itulah terasa begitu dekat.

Lagu ini menjadi pengingat bahwa di balik perjalanan, mimpi, dan ambisi, ada kebutuhan manusiawi untuk merasa terhubung dan dimiliki. Sebuah pembuka yang kuat menuju era baru Boy In Space, yang tampaknya akan dipenuhi kejujuran, refleksi, dan pencarian makna. Tuna55

Leave a Reply