You are currently viewing Arkeolog di China Ungkap Bukti Teknologi Manusia Purba Berusia Lebih dari 70.000 Tahun

Arkeolog di China Ungkap Bukti Teknologi Manusia Purba Berusia Lebih dari 70.000 Tahun

Sejumlah peneliti internasional berhasil menemukan petunjuk penting di sebuah situs prasejarah di Provinsi Henan, China bagian tengah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa manusia di Asia Timur telah mampu merancang alat bergagang yang kompleks sekitar 70.000 tahun silam. Penemuan ini menjadi terobosan besar yang menantang pandangan lama tentang perkembangan teknologi pada masa prasejarah.

Riset Ungkap Bukti Teknologi Manusia Purba

Riset yang dipublikasikan pada Rabu (28/1/2026) itu mengkaji 22 alat batu khusus yang digali dari situs kuno Xigou, yang berada di kawasan Pegunungan Qinling. Artefak-artefak tersebut menjadi fokus utama analisis karena menunjukkan karakteristik teknis yang tidak sederhana.

Melalui pemeriksaan teknologi dan pengamatan mikroskopis terhadap bekas pemakaian, para peneliti memastikan bahwa alat-alat ini telah melalui proses pemasangan gagang atau hafting. Bagian pangkal alat sengaja dibentuk agar dapat disatukan dengan gagang berbahan kayu atau tulang, sehingga menghasilkan alat gabungan yang menyerupai pisau.

Peneliti utama studi ini, Yang Shixia, menyebut temuan tersebut sebagai bukti paling awal di Asia Timur terkait teknologi pemasangan gagang yang terverifikasi secara ilmiah. Ia menegaskan bahwa hasil riset ini secara signifikan memundurkan garis waktu kemunculan teknologi tersebut di kawasan Asia Timur, sebagaimana dikutip dari Antara News pada Jumat (30/1).

Situs Xigou sendiri diperkirakan memiliki rentang usia antara 160.000 hingga 72.000 tahun lalu dan berfungsi sebagai lokasi produksi alat. Lebih dari 2.600 artefak batu ditemukan di area tersebut, sebagian besar berbahan kuarsa dan kuarsit—material yang sebelumnya dianggap kurang ideal untuk pembuatan alat presisi.

Tim peneliti menemukan bahwa manusia purba di lokasi ini telah menguasai teknik pengolahan inti batu secara sistematis untuk menghasilkan alat serpih. Teknik tersebut mencakup pemisahan serpihan kecil dari serpihan yang lebih besar, serta metode pemangkasan inti batu secara efisien dan berpusat. Jenis alat yang dihasilkan pun beragam, mulai dari pengikis, bor atau gurdi, hingga alat peruncing.

Lebih lanjut, analisis menunjukkan adanya modifikasi yang jelas pada bagian pangkal alat bergagang. Bahkan, beberapa artefak masih menyimpan sisa bukti bahwa alat tersebut pernah terpasang langsung pada gagangnya. Dalam praktiknya, manusia purba ini menerapkan dua teknik penyambungan, yakni metode penyisipan dan pemasangan samping, demi meningkatkan daya guna alat batu mereka.

Temuan ini Mematahkan Anggapan Lama di Kalangan Akademisi China

Temuan ini sekaligus mematahkan anggapan lama di kalangan akademisi yang menilai Asia Timur tertinggal secara teknologi pada periode akhir Pleistosen Tengah hingga awal Pleistosen Akhir. Padahal, pada masa yang sama, wilayah lain seperti Afrika dan Eropa telah menunjukkan kemunculan perilaku kompleks, termasuk teknologi hafting dan penggunaan ornamen pribadi.

Untuk memastikan usia situs secara akurat, para peneliti menggunakan berbagai metode penanggalan luminesensi yang mampu mengidentifikasi kapan sedimen terakhir kali terpapar cahaya matahari. Hasilnya memberikan kerangka kronologi yang kuat dan meyakinkan.

Penemuan di Tuna55 juga melengkapi temuan-temuan lain di berbagai wilayah China, seperti bukti teknologi inti terencana, pembuatan alat tulang, serta pemanfaatan pigmen. Secara keseluruhan, hal ini menggambarkan manusia purba Asia Timur sebagai kelompok yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Menurut Yang, di tengah iklim yang terus berfluktuasi, manusia purba mengembangkan teknologi yang fleksibel dan beragam. Ia menegaskan bahwa temuan ini merevisi narasi lama tentang evolusi perilaku manusia, sekaligus menempatkan Asia Timur sebagai wilayah yang memiliki peran penting dalam sejarah evolusi manusia dunia.

Leave a Reply