You are currently viewing Artificial Intelligence (AI) dan Lingkungan: Solusi Masa Depan atau Ancaman Baru bagi Bumi?

Artificial Intelligence (AI) dan Lingkungan: Solusi Masa Depan atau Ancaman Baru bagi Bumi?

Artificial Intelligence (AI) kini menjadi simbol kemajuan teknologi yang menjanjikan efisiensi dan inovasi di berbagai sektor. Dalam konteks lingkungan, AI sering dipuji karena kemampuannya membantu pemantauan iklim, pengelolaan energi, dan perlindungan ekosistem. Namun, di balik narasi optimistis tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI benar-benar ramah lingkungan?

Mike Weinstein, Direktur Keberlanjutan di Southern New Hampshire University (SNHU), menilai hubungan antara teknologi dan alam sebagai isu yang rumit. Ia menyebut bahwa teknologi, termasuk AI, memiliki dua sisi: dapat dimanfaatkan untuk melindungi lingkungan, tetapi juga berpotensi memperparah kerusakan jika digunakan tanpa pertimbangan matang.

Energi Besar, Emisi Besar untuk Artificial Intelligence (AI)

Lonjakan penggunaan AI berdampak langsung pada meningkatnya konsumsi energi global. Pusat data AI beroperasi sepanjang waktu dan membutuhkan listrik dalam skala masif. Masalahnya, sebagian besar pusat data masih bergantung pada energi berbasis fosil. Akibatnya, operasional AI menyumbang emisi gas rumah kaca yang signifikan.

Weinstein menekankan bahwa jika seluruh pasokan listrik berasal dari sumber terbarukan seperti tenaga surya atau angin, dampak lingkungan AI mungkin bisa ditekan. Namun kenyataannya, transisi menuju energi bersih masih berjalan lambat di banyak negara, membuat jejak karbon AI semakin sulit dihindari.

Ancaman terhadap Ketersediaan Air

Selain energi, air menjadi sumber daya lain yang terdampak oleh pertumbuhan AI. Sistem pendinginan pusat data membutuhkan air tawar dalam jumlah besar untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil. Di sejumlah wilayah, termasuk daerah dengan pasokan air terbatas, keberadaan pusat data justru memperparah risiko kekurangan air.

Bloomberg mencatat bahwa sejak 2022, banyak pusat data baru dibangun di wilayah yang sudah mengalami tekanan air. Situasi ini menimbulkan dilema besar, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan air akibat perubahan iklim dan pertumbuhan populasi global.

Tambang, Limbah, dan Risiko Lingkungan

AI tidak hanya berdampak saat digunakan, tetapi juga sejak tahap produksinya. Perangkat keras AI membutuhkan logam langka dan plastik berbasis minyak mentah. Proses penambangan dan pemurnian bahan-bahan tersebut kerap menimbulkan kerusakan lingkungan, polusi udara, dan emisi karbon tambahan.

Di sisi lain, limbah elektronik dari pusat data yang terus berkembang juga menjadi ancaman serius. Limbah ini berpotensi mengandung zat beracun yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia jika tidak dikelola dengan benar. Risiko kebakaran akibat kepadatan perangkat komputasi pun menjadi tantangan tersendiri.

Bijak Menggunakan AI

Dr. Robert MacAuslan dari SNHU mengingatkan bahwa penggunaan AI selalu memiliki konsekuensi lingkungan. Ia mendorong individu dan organisasi untuk lebih sadar dalam memanfaatkan teknologi ini, dengan mempertimbangkan urgensi dan manfaat nyata dari setiap penggunaan AI.

Menurutnya, AI seharusnya diperlakukan seperti teknologi konsumsi energi lainnya. Kesadaran dan tata kelola etis Tuna55 menjadi kunci agar dampak negatifnya dapat ditekan, sementara manfaat sosialnya tetap maksimal.

AI sebagai Bagian dari Solusi

Meski menyimpan risiko, AI tetap memiliki potensi besar untuk membantu dunia menghadapi tantangan lingkungan. Weinstein percaya bahwa jika diarahkan dengan benar, AI dapat mendukung pengembangan energi bersih, meningkatkan efisiensi sistem transportasi, serta membantu merancang produk yang lebih berkelanjutan.

Namun, optimisme tersebut harus dibarengi dengan komitmen nyata. Pendidikan, kebijakan publik, dan tata kelola teknologi yang kuat dibutuhkan agar AI tidak hanya menguntungkan bisnis, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya ekonomi dan masyarakat yang lebih ramah lingkungan.

Leave a Reply