Harga Bitcoin Terpangkas 50% dari Posisi Tertinggi, Pengamat Bilang Begini – Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah nilainya dilaporkan turun drastis hingga sekitar 50% dari posisi tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH). Penurunan ini menandai salah satu koreksi terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan memicu kekhawatiran di kalangan investor kripto global.
Data pasar menunjukkan bahwa Bitcoin sempat mencapai rekor tertinggi sekitar 126.000 dolar AS pada Oktober 2025. Namun dalam beberapa bulan berikutnya, nilainya merosot tajam hingga kisaran 60.000 dolar AS, atau lebih dari separuh dari puncaknya. Penurunan tersebut terjadi relatif cepat, hanya dalam rentang waktu kurang dari setengah tahun, sehingga menimbulkan tekanan psikologis di pasar aset digital.
Kondisi ini bukan pertama kalinya terjadi dalam sejarah Bitcoin. Mata uang kripto terbesar di dunia itu memang dikenal memiliki volatilitas tinggi, dengan siklus naik-turun yang kerap ekstrem. Pada periode sebelumnya, Bitcoin juga pernah kehilangan sebagian besar nilainya sebelum akhirnya kembali menguat dalam siklus berikutnya.
Faktor Makroekonomi Jadi Pemicu Utama Harga Bitcoin
Sejumlah pengamat menilai bahwa penurunan harga Bitcoin kali ini tidak disebabkan satu faktor tunggal. Tekanan justru datang dari kombinasi kondisi makroekonomi global, perubahan kebijakan, serta pergeseran minat investor terhadap aset berisiko.
Ketidakstabilan geopolitik dan ketegangan internasional disebut sebagai salah satu pemicu. Situasi tersebut mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan perak, sehingga permintaan terhadap Bitcoin berkurang. Selain itu, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral juga ikut menekan pasar kripto karena likuiditas global menjadi lebih ketat.
Analis juga menyoroti arus keluar dana besar dari produk investasi institusional seperti ETF kripto. Penarikan dana dalam jumlah signifikan membuat tekanan jual meningkat dan mempercepat penurunan harga. Di saat yang sama, pelemahan saham teknologi turut memperburuk sentimen pasar karena aset kripto sering bergerak searah dengan sektor teknologi.
Tekanan dari Leverage dan Aktivitas Institusi
Selain faktor makro, mekanisme pasar internal kripto juga berperan besar. Beberapa analis menyebut posisi investasi berleverage tinggi yang dipegang hedge fund menjadi pemicu awal gelombang jual. Ketika harga berhenti naik dan biaya pinjaman meningkat, posisi tersebut dipaksa dilikuidasi sehingga memicu aksi jual berantai.
Tekanan tambahan juga datang dari strategi lindung nilai (hedging) lembaga keuangan besar terhadap produk terstruktur yang terkait Bitcoin. Ketika harga menembus level tertentu, institusi harus menjual aset dasar untuk mengurangi risiko, sehingga mempercepat penurunan.
Di sisi lain, perubahan strategi sejumlah perusahaan penambang (miner) yang mengalihkan fokus bisnis—termasuk ke infrastruktur kecerdasan buatan—mendorong sebagian pelaku menjual cadangan Bitcoin mereka. Kondisi ini menambah suplai di pasar dan memperkuat tekanan harga.
Likuiditas dan Psikologi Pasar Memperparah Koreksi
Faktor likuiditas juga menjadi perhatian. Penurunan sering terjadi saat volume perdagangan tipis, sehingga pergerakan harga menjadi lebih tajam. Selain itu, rotasi modal ke aset lain akibat penguatan mata uang tertentu atau perubahan portofolio global turut mempercepat koreksi.
Dari sisi psikologi pasar, jatuhnya harga hingga puluhan persen memicu kepanikan dan aksi jual lanjutan. Efek domino ini umum terjadi dalam pasar kripto karena banyak investor menggunakan strategi jangka pendek dan leverage tinggi.
Volatilitas Tinggi Masih Jadi Ciri Bitcoin
Para pengamat menilai bahwa penurunan 50% ini memang signifikan, tetapi masih berada dalam pola historis Bitcoin yang kerap mengalami koreksi tajam sebelum menemukan titik keseimbangan baru. Beberapa analis bahkan melihat fase ini sebagai bagian dari siklus pasar yang dipengaruhi likuiditas global dan arus dana institusional.
Ke depan, arah pergerakan Bitcoin sangat bergantung pada kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, serta minat investor institusi terhadap aset digital. Jika tekanan likuiditas mereda dan arus dana kembali masuk Tuna55, peluang pemulihan tetap terbuka. Namun jika faktor risiko global meningkat, volatilitas tinggi diperkirakan masih akan membayangi pasar kripto dalam waktu dekat.