Menteri Pariwisata (Menpar) menegaskan bahwa kebersihan destinasi wisata memiliki peran krusial terhadap keberlanjutan sektor pariwisata nasional. Destinasi yang kotor, tidak terawat, dan minim pengelolaan lingkungan dinilai dapat menurunkan minat kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Dampak jangka panjangnya bukan hanya pada citra pariwisata Indonesia, tetapi juga pada penurunan devisa negara.
Dalam beberapa kesempatan, Menpar menyampaikan keprihatinannya terhadap sejumlah destinasi unggulan yang mulai mengalami masalah kebersihan, seperti sampah yang menumpuk, sanitasi yang buruk, hingga rusaknya ekosistem alam. Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan upaya pemerintah yang tengah gencar mempromosikan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Dampak Langsung Terhadap Kunjungan Wisatawan
Destinasi wisata yang tidak bersih memberikan kesan negatif bagi wisatawan. Pengalaman buruk akibat lingkungan yang kotor sering kali dibagikan melalui media sosial dan platform ulasan perjalanan. Hal ini secara cepat memengaruhi persepsi calon wisatawan lainnya.
Menpar menilai bahwa wisatawan saat ini semakin selektif. Mereka tidak hanya mencari keindahan alam atau keunikan budaya, tetapi juga kenyamanan, kebersihan, dan keamanan. Ketika standar tersebut tidak terpenuhi, wisatawan cenderung memilih negara atau destinasi lain yang lebih siap dan ramah lingkungan.
Penurunan jumlah kunjungan wisatawan secara otomatis berdampak pada sektor ekonomi lokal, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga pelaku UMKM pariwisata.
Menpar: Kebersihan Menentukan Nilai Devisa
Menpar menegaskan bahwa kebersihan destinasi memiliki korelasi langsung dengan perolehan devisa negara. Semakin lama wisatawan tinggal dan semakin besar pengeluaran mereka, maka kontribusi terhadap devisa juga meningkat. Namun, destinasi yang kotor justru mendorong wisatawan untuk mempersingkat masa tinggal bahkan enggan kembali.
“Pariwisata ini bukan hanya soal promosi saja, tetapi juga soal kualitas dan pengalaman. Destinasi yang kotor bisa menurunkan nilai belanja wisatawan dan berdampak langsung pada devisa negara,” ujar Menpar.
Menurutnya, menjaga kebersihan bukan semata tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat setempat.
Perlu Kolaborasi dan Kesadaran Bersama
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Menpar mendorong kolaborasi lintas sektor. Pengelolaan sampah, penyediaan fasilitas sanitasi, serta edukasi kepada masyarakat dan wisatawan harus dilakukan secara konsisten. Selain itu, penerapan standar kebersihan di kawasan wisata dinilai perlu diperketat.
Menpar juga menekankan pentingnya peran masyarakat lokal sebagai garda terdepan. Kesadaran untuk menjaga lingkungan sekitar destinasi akan menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Dengan destinasi yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing pariwisata global sekaligus menjaga stabilitas dan pertumbuhan devisa negara dari sektor pariwisata Tuna55.