You are currently viewing Menjaga Daya Saing, Industri Gelas Kaca hingga Keramik Minta Pasokan Energi Stabil

Menjaga Daya Saing, Industri Gelas Kaca hingga Keramik Minta Pasokan Energi Stabil

Pelaku industri gelas kaca hingga keramik menegaskan pentingnya pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan untuk menjaga daya saing sektor manufaktur nasional. Ketergantungan tinggi terhadap energi, khususnya gas dan listrik, membuat industri ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan maupun fluktuasi harga.

Permintaan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya tekanan biaya produksi, persaingan produk impor, serta tuntutan efisiensi di tengah perlambatan ekonomi global.

Industri Gelas Energi Jadi Komponen Biaya Terbesar

Bagi industri gelas kaca dan keramik, energi bukan sekadar faktor pendukung, melainkan komponen utama dalam proses produksi. Pembakaran tungku bersuhu tinggi yang berlangsung nonstop membuat kebutuhan gas dan listrik tidak dapat ditawar.

Pelaku usaha menyebutkan bahwa porsi biaya energi dapat mencapai 30–50 persen dari total biaya produksi. Karena itu, gangguan pasokan sekecil apa pun berpotensi menghentikan proses produksi dan menyebabkan kerugian besar.

“Kalau pasokan gas saja sudah terganggu, tungku tidak bisa cepat-cepat langsung dimatikan sembarangan. Dampaknya bisa fatal, baik secara teknis maupun finansial,” ujar salah satu pelaku industri.

Fluktuasi Pasokan Tekan Daya Saing

Selain stabilitas pasokan, industri juga mengeluhkan fluktuasi harga energi yang sulit diprediksi. Ketidakpastian ini membuat pelaku usaha kesulitan menyusun perencanaan produksi jangka panjang dan menentukan harga jual yang kompetitif.

Di sisi lain, produk impor dari negara yang memiliki pasokan energi murah dan stabil semakin membanjiri pasar domestik. Kondisi ini menekan industri lokal yang harus bersaing dari sisi harga maupun kualitas.

Pelaku industri menilai, tanpa dukungan kebijakan energi yang berpihak pada sektor manufaktur, daya saing produk dalam negeri akan semakin tergerus.

Ancaman Terhadap Investasi dan Tenaga Kerja

Ketidakpastian pasokan energi juga berdampak pada minat investasi. Industri gelas kaca dan keramik dikenal padat modal dan membutuhkan investasi jangka panjang. Investor, baik dalam maupun luar negeri, cenderung berhati-hati jika kepastian energi tidak terjamin.

Selain itu, industri ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja di berbagai daerah. Gangguan produksi akibat energi berisiko memicu pengurangan jam kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK), yang berdampak langsung pada perekonomian lokal.

Dorongan kepada Pemerintah

Pelaku industri berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret, mulai dari menjamin ketersediaan gas industri, menjaga keandalan pasokan listrik, hingga meninjau kembali skema harga energi untuk sektor manufaktur strategis.

Mereka juga mendorong adanya koordinasi yang lebih erat antara kementerian terkait, BUMN energi, dan pelaku industri agar kebijakan yang diambil tidak bersifat sektoral.

“Industri gelas kaca dan keramik sudah sangat berkontribusi besar bagi dalam hal pembangunan Tuna55, mulai dari bahan bangunan hingga kemasan. Sudah semestinya mendapat perhatian serius,” kata perwakilan asosiasi industri.

Menuju Industri yang Berkelanjutan

Di tengah tuntutan global terhadap industri ramah lingkungan, pelaku usaha mengaku siap berinvestasi pada teknologi efisien dan rendah emisi. Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan dukungan pasokan energi yang andal dan terjangkau.

Stabilitas energi dinilai menjadi fondasi penting bagi transformasi industri menuju arah yang lebih berkelanjutan. Tanpa itu, target peningkatan nilai tambah dan substitusi impor akan sulit tercapai.

Permintaan pasokan energi yang stabil dari industri gelas kaca hingga keramik menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan energi dan industri harus berjalan seiring. Dengan dukungan yang tepat, sektor ini diyakini mampu terus bersaing di pasar domestik maupun global, sekaligus menjaga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Leave a Reply